Produksi Kemasan UKM, Boleh Murah Asal Bagus!

1509713_948874738465725_3693997310990443153_nUKMSukses.com – Sebagian pelaku UKM mungkin terkaget-kaget ketika sampai di tahap produksi kemasan. Desain yang sudah menarik dan komunikatif, ketika dihitung-hitung untuk produksi masal, ternyata membutuhkan biaya yang luar biasa mahal. Sebagai contoh untuk kemasan fleksibel yang dicetak dengan teknik cetak rotogravure, biaya pembuatan 1 silinder cetaknya saja mencapai beberapa juta rupiah, padahal jarang sekali desain kemasan yang hanya menggunakan satu warna saja. Belum lagi biaya material kemasannya yang juga tidak murah.

Di sisi lain, keterbatasan UKM justru terletak pada kemampuan keuangan yang tidak terlalu besar, serta jumlah produksi yang belum sebanyak pabrikan besar. Produksi kemasan dengan jumlah sedikit ini akan mempengaruhi biaya per unit kemasan (unit cost) yang juga akan menjadi sangat mahal, sementara untuk mencetak kemasan sekaligus dalam jumlah sangat banyak, pelaku UKM terbentur pada volume penjualan yang masih sedikit, sehingga selain menyerap modal yang besar, kemasan yang banyak itu juga akan sangat lama menumpuk di gudang. Ini tentu saja merugikan arus kas pelaku UKM.

Beberapa hal yang bisa disiasati untuk menghadapi kendala ini adalah sebagai berikut:

  1. Material

Pada dasarnya tidak ada batasan dalam penggunaan material kemasan untuk UKM, karena setiap material yang digunakan harus bisa menjalankan fungsi melindungi produk yang dikemasnya. Jadi pilihan material untuk aspek perlindungan ini tidak bisa di tawar. Apa gunanya biaya kemasan yang murah tapi tak dapat melindungi produk, sehingga produk rusak ketika di terima konsumen. Ini tentu akan lebih merugikan. Jadi kuncinya tetap ada pada kebutuhan produknya.

Karton

Kemasan karton lipat dengan material karton adalah salah satu jenis kemasan yang banyak digunakan produk UKM. Selain kemudahan mendapatkan material, karton juga dapat dicetak dengan teknik cetak offset yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan teknik cetak fleksografi atau rotogravure. Strategi biaya yang bisa dilakukan pada penggunaan material ini adalah pemilihan material karton yang digunakan. Dupleks, Art Carton, dan Ivory Carton adalah beberapa material yang banyak digunakan. Dari ketiganya, dupleks merupakan material karton yang paling murah untuk ketebalan yang sama. Kekurangannya ada para permukaan kartonnya yang lebih kasar dan bagian belakangnya yang berwarna abu-abu sehingga mempengaruhi kualitas warna putih di sisi depannya. Permukaannya yang kasar juga membuatnya kurang bagus jika di finishing dengan cara laminasi.

Kekurangan kualitas warna putih dapat diatasi dengan membuat desain dengan warna kuat yang memenuhi seluruh permukaan karton. Teknik ini dapat menyembunyikan kusamnya warna karton yang akan lebih terlihat jika pada desainnya banyak area putih. Sedang untuk teknik finishing dapat digunakan varnish untuk memberi kesan mengkilap sebagai pengganti laminasi.

Karton dupleks juga memiliki varian bleached dimana kedua sisinya berwarna putih. Material ini cocok untuk kemasan makanan karena memberi kesan lebih bersih dibandingkan dupleks yang sisi dalamnya berwarna abu-abu.

Jika biaya masih terjangkau, penggunaan material karton artpaper atau ivory karton dapat dipertimbangkan karena akan memberi kesan produk yang lebih premium.

Botol

Produk UKM juga banyak yang dikemas dalam kemasan botol, baik botol plastik maupun botol kaca. Untuk kalangan UKM, membuat desain botol sendiri untuk kemudian membuat produksinya khusus untuk keperluan produknya akan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Betul bahwa desain botol yang khusus untuk produk kita sendiri akan membuat produk kita berbeda dengan produk pesaing, namun biaya yang sangat tinggi untuk produksi skala kecil akan membuat harga produk menjadi tidak kompetitif.

Solusi dari masalah ini adalah menggunakan botol yang termasuk dalam kategori free items. Ini adalah istilah untuk botol yang diproduksi masal oleh pabrik botol, dan bisa dibeli oleh siapa saja. Toko-toko kemasan yang menjual botol free items ini biasanya membolehkan kita untuk membeli dalam jumlah sedikit sesuai keperluan kita.

Botol-botol dengan desain struktur yang laku biasanya akan selalu di produksi dan selalu tersedia di pasaran. Tantangannya adalah memilih botol dengan ukuran yang sesuai dengan produk kita, memiliki desain yang unik dibanding yang digunakan kompetitor pada umumnya, namun di sisi lain kontinuitas ketersediaannya terjamin, agar saat stok botol yang kita beli sudah habis, kita dapat membeli botol dengan bentuk dan ukuran yang sama. NEXT

Nangwe (@nangwelogy)
Nangwe (@nangwelogy)
Nanang Wahyudi biasa dipanggil Nangwe adalah Founder & Managing Director Dampu Design dan Founder Rumah Makan Saung Prang Pring. Selain berbisnis, beliau juga aktif menjadi pemerhati UKM khususnya terkait dengan kemasan/packaging dan design. Di tengah kesibukannya, NangWe juga adalah Dosen Kewirausahaan dan Desain Kemasan Politeknik Negeri Jakarta di Depok. Kumpulan artikel : http://ukmsukses.com/author/nangwe Twitter: @nangwelogy.

Leave a Reply


9 + = 10