Pemasaran di Era postmodern : Perang Makna dan Pengalaman

marketing ukmsuksescomEra postmodern adalah era dimana semua orang melakukan dekonstruksi terhadap konsep-konsep yang di anggap baku. Konsep tradisionalist di tantang oleh konsep modern dan konsep modern di tantang oleh konsep postmodern. Marketing pun tidak luput dari dekonstruksi massal sehingga konsep pemasaran Kotler yang baku pun di tantang untuk terus berubah ke arah jaman yang semakin memiliki kebenarannya sendiri.

Marketing pun berubah semakin dinamis dari 1.0 yang sangat mementingkan produk menjadi 2.0 yang sangat mementingkan services dan sekarang 3.0 yang mementingkan makna service yaitu Care.

Sebagai wirausahawan yang berada di era pencarian makna, maka usaha-usaha pemasaran pun akhirnya tidak cukup lagi hanya mengandalkan konsep-konsep pemasaran seperti produk yang baik, harga yang pantas, promosi yang agresif dan distribusi yang merata. Konsep 4P atau marketing mix atau bauran pemasaran tidak dapat lagi menggugah konsumen untuk mengkonsumsi produk anda karena semakin hari semakin banyak pelaku pemasaran yang bisa memberikan produk yang lebih bervariasi, lebih murah, lebih menarik dan memiliki inovasi distribusi yang terus di tingkatkan kualitasnya (perhatikan kripik setan Ma’Icih).

Apalagi semakin berkumpulnya massa di dunia horisontal yang ditandai dengan kebangunan teknologi twitter dan facebook yang fenomenal dan di dukung oleh fokusnya para operator telekomunikasi kedalam pengembangan teknologi internet yang super cepat. Pada akhirnya ide pemasaran, ide produk, ide harga, ide promosi, dan ide distribusi menjadi sangat massal dan bisa di dapat segera hanya dengan menanyakannya ke dalam komunitas horisontal ini.

Melihat hal ini, saya kemudian merenungkan apa yang seharusnya di lakukan oleh para wirausahawan UKM yang menopang 99% ekonomi indonesia? Inilah beberapa point pemikiran saya :

1. Differensiasi pada akhirnya bukan saja di dalam bauran pemasaran / marketing mix saja tetapi pada makna (meaning) yang termaksud di dalam budaya atau visi dari pendirinya. Starbuck yang pada mulanya bervisi bahwa makna dari starbuck adalah pengalaman minum kopi pada akhirnya harus menjadi differensiasi yang paling berarti dan bukan pada pembukaan toko yang agresif (salah satu tehnik perusahaan ritel makanan), menu makanan yang bervariasi, harga yang kompetitif dan promosi online offline yang menjangkau dunia. Starbuck akhirnya harus kembali ke makna dia yang paling hakiki yaitu Experience Drinking Coffee nya yang melegenda. Maka mencari makna yang hakiki dari sebuah bisnis merupakan sebuah diferensiasi yang paling kuat yang mampu membuat usaha anda menjadi lebih unik.

2. Kegiatan pemasaran pada akhirnya harus menyerah kepada apa yang diinginkan oleh value chain anda. Di era modern kita berpikir bahwa konsumen yang terpenting tetapi menurut pemikiran saya, dunia horisontal merupakan dunia yang mementingkan juga produsennya. Menurut pemikiran Hermawan Kartajaya, perang kapasitas adalah yang merupakan inti dari pemasaran di era postmodern ini. Pada akhirnya para wirausahawan UKM harus terus mereview value chain mereka, mulai dari sumber produknya sampai kepada pengalaman-pengalaman yang diinginkan oleh baik oleh pemasokmu sampai kepada pelangganmu.

3. Kunci dari brand awareness adalah pengalaman yang bersifat impresif dan improvement. Semakin tinggi tingkat pengalaman yang di transfer ke dalam value chain maka semakin berbedalah anda dengan orang lain. Dunia yang terus mencari spirit dengan di tandai dengan pencarian spiritualitas, menandakan dunia yang semakin memuja pengalaman. Pengalaman-pengalaman inilah yang harus di cari tahu dan kemudian di adopsi dan diadaptasi dan di modifikasi sedemikian rupa agar dapat di improve kualitasnya.

Berdasarkan renungan ini maka yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah bagaimana mencari dan mengumpulkan “Makna dan Pengalaman”?  Saya tunggu tanggapan dari bapak dan ibu wirausahawan UKM 

Sumber foto : http://www.taylorclark.co

Husin Wijaya (@husinw)
Husin Wijaya (@husinw)
Pengalaman bekerja selama 15 tahun dan 8 tahun diantaranya di level senior managerial. Fokus pada industri ritel dan direct selling dan akhirnya mengabdikan diri ke dalam bidang pengembangkan pengetahuan di MarkPlus Institute of Marketing. Menjadi senior facilitator yg membawahi industri automotive, telah memiliki jam mengajar lebih dari 10.000 jam. Lulusan Tarumanagara fokus pada human capital dan Master of CSR dari Trisakti. Pemerhati Internet dan teknologi dan mendapatkan sertifikasi e-commerce strategy dari BrainBench. Dapat di ikuti di twitter @husinw.

Leave a Reply


3 − = 2