Meniti Mimpi Mandiri

Saya lalu merenung dalam-dalam. Merambati kata hati yang sudah bergelut sangat kencang belakangan ini. Jika terus menjadi karyawan, hidup saya lebih tenang. Terima gaji tiap bulan walau kenaikannya tak signifikan. Pekerjaan pasti tiap hari, pun jam kerjanya. Jika saya memilih wirausaha, kerjaan tak pasti ada walau mungkin juga sangat banyak, pendapatan belum tentu, banyak hal baru yang saya harus pelajari. Banyak aktivitas lain yang bisa saya kerjakan. Mungkin beberapa orang bisa terbantu mendapatkan pekerjaan, setidaknya satu orang yang akan menggantikan saya di perusahaan tempat saya bekerja sekarang, dan beberapa orang lain bisa ikut bergabung jika kelak usaha saya berkembang. Hmm, sepertinya lebih bermanfaat bagi banyak orang.

Nah, hitung-hitungan itu semua memuarakan saya pada keyakinan untuk memulai wirausaha. Sukses? Tidak tentu saja awalnya. Pendapatan saya turun jadi hanya 10% dibanding gaji saya sebelumnya, sedangkan waktu kerja justru membengkak tak karuan. Kadang saya harus bekerja sampai jam 2 pagi demi menyelesaikan pesanan klien. Tapi entah kenapa, saya bahagia saja menjalaninya, padahal saya juga harus membagi waktu dengan kuliah saya yang baru saja berlanjut setelah saya resign sebagai karyawan. Dalam bahasa keren, mungkin ini yang disebut idealisme.

Mundur? Tentu tidak. Saya malah menambah aktivitas saya dengan kembali mengajar 2 hari dalam seminggu ketika perlahan usaha saya mulai menggeliat dan sudah mendapat bantuan dari beberapa orang yang bergabung dalam tim kerja saya. Saat itu yang saya pikirkan adalah membuat hidup saya bermafaat bagi lebih banyak orang, sambil terus belajar.

Dulu, ketika masih menjadi karyawan saya pernah berpikir, “pasti sulit sekali bagi mereka yang bekerja sambil melanjutkan kuliah”

lalu saya mencobanya, ternyata lama-lama bisa juga. kemudian berpikir lagi, “Kalau kerja, kuliah sambil ngajar juga, pasti susah sekali ya”

Tak lama kemudian saya melakukannya, dan juga alhamdulillah lancar-lancar saja. Sejak itu saja jadi malas berpikir macam-macam, baiknya, untuk hal yang baik ya langsung saja lakukan, sebelum malah nda jadi karena terlalu banyak mikirnya. Itu juga yang saya lakukan ketika akhirnya ber-wirausaha. NEXT

Nangwe (@nangwelogy)
Nangwe (@nangwelogy)
Nanang Wahyudi biasa dipanggil Nangwe adalah Founder & Managing Director Dampu Design dan Founder Rumah Makan Saung Prang Pring. Selain berbisnis, beliau juga aktif menjadi pemerhati UKM khususnya terkait dengan kemasan/packaging dan design. Di tengah kesibukannya, NangWe juga adalah Dosen Kewirausahaan dan Desain Kemasan Politeknik Negeri Jakarta di Depok. Kumpulan artikel : http://ukmsukses.com/author/nangwe Twitter: @nangwelogy.

Leave a Reply


+ 9 = 17