Mengupas Strategi Branding ala Subiakto di Pesta Wirausaha 2015

subiaktoUKMSukses.com – Pada tanggal 31 Desember 2015, kesepakatan akan adanya pasar bebas ASEAN akan mulai berlaku, jika ingin bersaing dengan negara lain sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia harus cepat melakukan pembenahan karena seiringnya waktu yang terus berjalan. Sebab, Indonesia akan diserbu produk bersama merek-merek negara-negara ASEAN dan tenaga kerja asingnya. Kalau produk dari barang/jasa industri kecil, menengah dan besar di Indonesia tidak bisa menggilas pasar global jangan harap produk/jasa industri tersebut bisa berkembang.

Untuk menghadapi serbuan tersebut, menurut praktisi branding Indonesia yaitu Subiakto yang merupakan CEO dari Hotline Group dan Rumah UKM, menyatakan dalam acara Pesta Wirausaha TDA 2015 bahwa UKM Indonesia membutuhkan tiga strategi agar tidak ter-disruption. Maksudnya adalah tidak tergilas dengan merek-merek serta produk yang dibawa negara lain walaupun beberapa diantaranya sudah menjadi brand di Indonesia. Strategi yang dimaksud adalah personal branding, produk branding dan komunal branding.

Dalam mengupas strategi tersebut masing-masing wajib tahu apa itu personal branding, produk branding dan komunal branding? Sebelum berlanjut ke tahap strategi yang dimaksud mesti tahu dulu pengertian dari brand dan branding. Menurut Subiakto, kata brand sendiri merupakan merek dari suatu perusahaan, sedangkan branding kumpulan kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka proses membesarkan dan membangun brand itu sendiri.

Saat ini, imbuh Subiakto pelaku UKM di Indonesia mencapai 56.539.558 yang terdiri dari UKM Mikro, UKM Kecil, UKM Menengah dan UKM Besar. Para pelaku UKM baik mikro hingga besar harus mampu mengemas secara baik produknya dengan menciptakan personal branding.

Personal branding berdasarkan pada pendapat Subiakto adalah praktek seseorang yang memasarkan dirinya dan keahliannya sebagai suatu brand atau merek. Hal ini dilakukan agar UMKM naik kelas, dari UKM Mikro menjadi UKM Kecil, UKM Kecil menjadi UKM Menengah dan begitu selanjutnya dengan menggunakan personal branding. Contohnya seperti Wahyu Indra pemilik usaha Mie Ayam Grobakan yang kini sudah mempunyai 134 mitra yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Semarang dan Pekanbaru dan juga perusahaan design grafis, Dampu Design yang awalnya dari mulut ke mulut sampai sekarang banyak dicari oleh klien yang ada di Indonesia maupaun luar negeri.

Umumnya kata Subiakto, personal branding dilakukan dengan dua cara yang pertama dengan menciptakan personal branding melalui kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Misalnya saja seseorang yang memiliki kemampuan dalam hal instalasi elektronik, maka yang ditonjolkan adalah ahli dalam servis elektronik. Kemudian kedua dengan self packaging dilakukan dengan mengandalkan kemampuan dalam mengemas penampilannya. Seperti seorang yang memiliki ponsel Android hal ini diposisikan sebagai barang berharga yang tidak bisa lepas dari aktifitas kehidupan sehari-hari. Jika tidak memiliki ponsel yang berbasis Android maka akan terus ketinggalan update informasi.

UKM Besar juga sangat membutuhkan sebuah produk branding untuk menghadapi pasar global ASEAN. Subiakto memaparkan bahwa produk branding adalah ikatan emosi antara produk/servis dari penjual dengan konsumen, titik kritisnya terletak pada menciptakan sebuah nilai. Hal ini seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Riyanto dan istrinya Sally Giovanny yang merupakan pemilik dari tempat grosir Batik Trusmi yang berawal dari kecil hingga menjadi sebuah pusat batik di Cirebon dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Maka sangat penting dan dibutuhkan yang namanya personal branding dan produk branding bagi para pelaku usaha terutama di sektor UKM. (ang)

Photo : RumahUkm.com

Admin @ukmsuksescom
Admin @ukmsuksescom
Ditulis dan diposting oleh Admin UKMSukses.com

Leave a Reply


+ 2 = 10