Kekalahan Bukanlah Kegagalan

priamanaya2UKMSukses.com – Pahitnya kekalahan mungkin hanya bisa dirasakan oleh mereka yang  pernah mengalaminya. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengatasi getirnya rasa kalah, kecuali dengan bersikap ikhlas dan bersyukur. Bersyukur masih diingatkan bahwa kita manusia yang tidak sempurna,  untuk berusaha lebih keras, dan supaya hati dan kaki lebih mengakar ke bumi.

Kekalahan maupun kemenangan bagi seorang manusia adalah hal alamiah yang bisa terjadi pada siapapun. Baik dia seorang entrepreneur, atlet, atau profesi lainnya.  Yang mendapat tempat terbaik tentunya adalah bagi mereka yang selalu memberikan segala upaya terbaiknya, baik sebelum maupun sesudahnya.

Coba saja kita tengok perjalanan Chris John, sang legenda tinju Indonesia. Dia melewati  52 kali pertarungan, dengan 48 kemenangan (22 kali menang K.O), 3 hasil imbang, dan 1 kekalahan.

Pada pertarungan terakhirnya (Desember 2013) tanpa disangka Chris John menghadapi kekalahan saat melawan Simpiye Vetyka, petinju dari Afrika Selatan. Memang pada pertarungan terakhir tersebut membuat Chris John berhenti dari dunia tinju.

Namun mundurnya Chris  tidak membuat prestasi  juara yang pernah diraihnya menjadi hilang.  Prestasi Chris John tetap akan menjadi catatan sejarah karena semua itu didapatnya dari kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa. Dia menjadi petinju Indonesia kelima yang berhasil merebut gelar juara dunia dari WBF.

Pernah saya membaca tentang Chris John, dimana dia mengatakan, “Orang hanya mengenal saya seperti sekarang ini; sukses, terkenal, dan memiliki banyak uang. Tapi kebanyakan dari mereka tidak tahu bagaimana saya berjuang, sejak kecil digembleng ayah saya berlatih tinju dan saya hampir tidak mempunyai waktu bermain seperti anak sebaya saya.”

Seorang juara sejati memang tidak lahir dalam sehari.

Indonesia dan Masyarakat Ekonomi ASEAN

Jika  geliat ekonomi di regional ASEAN diibaratkan seperti pertandingan tinju, maka Indonesia akan menghadapi Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Phillippines. Sumber daya manusia Indonesia dituntuk mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari negara-negara-negara tetangga, maka kita harus ‘memaksa’ SDM kita untuk berlatih dengan sangat keras.

Ketrampilan berbahasa asing maupun ketrampilan khusus dalam bekerja akan menjadi kunci daya saing tenaga kerja di tingkat ASEAN. Termasuk juga tantangan bagi entrepreneur Indonesia, untuks mampu mempelajari selera dan karakter penduduk dari negara tetangga, agar produk Indonesia mampu diterima oleh penduduk dari bangsa lain.

Kunci untuk maju adalah dengan terus belajar dan menjauhi sikap cepat berpuas diri. Saya yakin, keberadaan di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN ini bukanlah masalah kalah atau menang untuk menjadi juara ekonomi.  Akan tetapi menjadi ajang tantangan bagi setiap anak bangsa untuk mampu memberi kontribusi terbaiknya, sehingga karya mereka bisa bersaing di panggung dunia.

Saatnya kita meninggalkan rasa nyaman, dan bersenang-senang. Saatnya pengusaha Indonesia, khususnya yang muda, untuk maju didepan.

Priamanaya Djan (Ketua BPP HIPMI Bidang UKM dan Koperasi)

Priamanaya Djan (@priamanayadjan)
Priamanaya Djan (@priamanayadjan)
CEO Priamanaya Grup, Direktur Utama : PT Priamanaya Energi, PT Austrodwipa Energi, PT Priamanaya Telekomunikasi, PT Langgeng Prosperity Dinamika, BPR Rasyid, dan PT Priamanaya Djan International. Saat ini menjabat Ketua Bidang UKM Dan Koperasi BPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Kumpulan Artikel : http://ukmsukses.com/author/priamanaya Follow : @priamanayadjan

Leave a Reply


− 1 = 3