Empati

empati ukmsuksescomUKMSukses.com – Dimana kita meletakkan empati dalam proses inovasi perusahaan kita ? Jayson M. Boyers direktur eksekutif dari  Champlain College mengatakan “ Sepanjang karir saya sebagai seorang pendidik, dan berdasarkan berbagai interaksi dengan mahasiswa, guru besar dan karyawan,   saya telah mempelajari salah satu rahasia terhebat untuk sukses. Dan rahasia itu ternyata sangat sederhana: EMPATI.”

Seorang guru besar ngomong seperti itu mengejutkan. Itu mungkin karena kita berharap mendengar mengenai sebuah strategi bisnis baru atau praktek dan metode canggih. Namun, Jayson justru menemukan fakta bahwa para pemimpin dan berbagai perusahaan sukses itu memiliki keahlian unik yang memungkinkan mereka punya KONEKSI sekaligus memahami para profesional, klien dan para pegawai mereka.     Lebih lanjut menurut Jayson, tanpa empati bekerja seperti mengikuti status quo saja dan tidak akan pernah ada solusi-solusi baru dan tidak ada upaya berpikir inovatif.

Sekitar 3 hari lalu saya mendengar seorang CEO radio dari sebuah provinsi di Sumatera mengeluh: “sudah lebih dari 25 tahun saya berkecimpung di dunia radio, berbagai upaya sudah dilakukan, radio ini ya tetap seperti ini. Kembang kempis.”   Tapi di sisi lain dia menjelaskan bahwa dia pernah melakukan perubahan. Mengubah lagu-lagu pop menjadi lagu-lagu daerah dan ternyata ini mendapat respons yang positif.

Seandainya CEO stasiun radio ini sejak awal mencoba berempati terhadap para pendengar maka perubahan-perubahan yang dilakukan tidak sekadar trial and error yang membabi buta. Cobalah berempati, meletakkan diri sebagai pendengar.

“Kapan pendengar mendengarkan radio ? (Ada tv, ada gadget, ada internet, kapan pendengar benar-benar punya waktu mendengarkan radio ? Ketika bersantai di teras rumah atau sekadar ketika menyetel radio mobil dalam perjalanan sehari-hari ?) Kalau pun ada waktu, apa yang ingin pendengar dengar dari radio ?   (Setiap hari tv nasional dan lokal menayangkan lagu-lagu pop nasional. Apakah pendengar ingin mendengar yang berbeda dari yang ditayangkan tv ?)…….dan seterusnya

Semua pertanyaan ini bisa berkembang. Sebuah tools bernama Empathy Map bisa menjadi pembimbing kita untuk mampu berempati dan kemudian menemukan apa yang diinginkan konsumen atau pendengar. Namun sebagai sikap dasar untuk berempati itu, seorang pemimpin harus punya keahlian untuk mendengar, Jayson menyebutnya “professional readiness”. Seorang pemimpin yang sama sekali tidak mau membuka telinga untuk mendengar perkataan profesional atau pegawainya adalah pemimpin yang tidak berempati kepada para profesional dan pegawainya. Jika sudah tidak ada empati, jangan berharap inovasi masuk ke pintu perusahaan kita.

Sumber foto : http://everydaylife.globalpost.com/

 

Aris Ananda (@aris_ananda)
Aris Ananda (@aris_ananda)
Adalah penulis buku KREATIVITAS UNTUK BOOMING. Mengawali karir sebagai jurnalis majalah bisnis dan penulis skenario drama. Berkecimpung lebih dari 20 tahun di industri tv sebagai praktisi. Masih aktif sebagai praktisi di industri kreatif sekaligus trainer dan pembicara untuk tema kreativitas dan industri kreatif. Modul pelatihan yang dikembangkannya: Creative Product Development dan Kreativitas untuk Booming. Kumpulan artikel : http://ukmsukses.com/author/arisananda/ Twitter: @aris_ananda

Leave a Reply


1 + = 9